Saturday, February 10, 2018 at 7:32 AM |
Dengan semakin majunya teknologi, kita udh sulit membatasi anak-anak untuk tidak mengenalnya. Hal yang paling simple adalah gadget. Bisa dilihat kalau skrng anak bayi aja udh main gadget, minimal hanya untuk nonton YouTube. Keponakan g aja yang baru 3 tahun udh jago bgd mengoperasikan tablet miliknya. Miliknya sendiri loh bukan pinjam punya orangtuanya. Hebat kan!? Coba kita-kita, masih ingat kapan kalian pertama kali pegang atau punya yang namanya handphone?

G pegang handphone, mulai bisa main-main dengan handphone tuh sekitar kelas 1 SMA. Itu pun punya kakak g. Sialnya, g menghilangkan handphonenya lagi saat dibawa main ke mal untuk acara makan-makan ultahnya temen. Kalau boleh pinjam istilahnya nyokap, beli ga kuat eh ganti punya orang kuat. Artinya untuk beli buat diri sendiri ngga ada uang tapi terpaksa harus punya uang untuk mengganti punya orang lain yang dihilangkan atau dirusak. Begitulah nasib g saat itu. Nyokap dan bokap pastinya marah karena g menghilangkan handphonenya kakak g itu tapi yang paling bawel dan marah adalah nyokap kalau bokap malah melihat dari sisi keamanan g saat membawa handphone dan saat di jalan. Mungkin itu yang mendasari dia untuk membunyikan telp g di saat g belum sampai dirumah menurut ukuran yang dia tentukan sendiri.

Pasca kehilangan handphone itu, g ga bisa pegang handphone lagi karena uang tabungan habis buat gantiin handphone kakak g, yang awalnya buat beli sendiri eh jadinya buat beliin orang lain. Ya sudahlah. Bokap bipang itu yang namanya belajar bertanggung jawab. Selang 1 tahun setelahnya, akhirnya g Bisa punya handphone sendiri, hore! Emang sih cuma handphone warisan kakak g tapi g ga dapat gratisan, g tetap bayar dengan sejumlah uang tertentu, emang sih lebih murah dari harga aslinya bahkan lebih murah dari harha second-nya hehe.

Senang punya handphone baru tapi dilema karena punya rutinitas baru. Waktu itu g masih duduk di kelas 2 SMA. Kegiatan udh agak padat dengan sekolah dan juga saat itu g aktif di kegiatan ekstrakurikuler keagamaan. Entah gimana dulu tuh kami seneng banget ngumpul setelah pulang sekolah untuk rapat atau hanya doa bersama. Keren deh waktu itu. Bisa saling membangun satu sama lain secara keimanan dan bagusnya pergaulan kami terjaga. Bahkan bisa membantu teman yang udh menjurus ke arah yang ngga benar kya merokok atau narkoba, pergaulan ngga bener dengan anak-anak yang suka tawuran atau bahkan yang simple seperti bolos sekolah. Seru aja ketemu mereka setiap hari buat ngobrolin acara atau masalah salah satu teman kami. Itu positif nya. Nah negatif nya juga ada yaitu bikin kami selalu pulang lebih lambat dari orang lainnya. Hal inilah yang memicu bokap untuk membunyikan handphone g di jam tertentu.

Mulai dari kelas 2 SMA itu, bokap akan membunyikan handphone g tepat jam 5 sore setiap harinya saat dia liat g belum ada di rumah di jam itu. Yang dia tanyakan selalu sama dan durasi teleponnya pun hampir selalu sama yaitu hanya sekitar 2-3 menit, paling lama. 5 menit. Dia hanya akan bertanya, "udah dimana?" lalu dia akan menutup nya setelah mendapatkan jawaban lokasi yang dia kenal. Awalnya g menanggapi dengan santai, lama-kelamaan g agak kesel juga sih. Ditambah dengan ledekan dari temen-temen g kalau g masih bersama mereka saat telepon itu berbunyi. Pernah sekali g lagi main ke mal dan dia nelp, itu sangat menyebalkan. Saat sampai rumah g sempat marah-marah sama dia. Bokap ga marah besar cuma dia ngomong dengan nada tinggi juga kalau dia bilang ga baik anak cewek jam segitu masih di luar rumah, itu baru jam 5 sore loh. Dan di jam itu g udh beranjak keluar mal. Memang sampai rumah jadi sekitar kam 6.30 karena macet dan lainnya. G sampai nangis karena kesel dan marah terus ga nyapa bokap beberapa hari dan ga angkat telepon dia yang biasa selama 2 hari.


Kejadian itu ngga bikin bokap menyerah. Dia tetap melakukan kebiasaannya sampai g masuk kerja untuk pertama kalinya. Cuma dia melakukan perhitungan yang luar biasa tanpa g sadari. Jadi waktu g Masih di SMA, telepon itu berbunyi teoat di jam 5 sore. Saat g udh masuk kuliah, telepon itu akan berbunyi tepat jam 6 sore. Masih dengan durasi yang sama dan pertanyaan yang sama. Lama kelamaan g ga lagi kesel dan bete saat ditelepon bahkan di depan teman-teman g karena percuma toh besoknya dia akan melakukan hal yang sama lagi. Suatu hari teman kuliah g bilang kalau harusnya g bahagia atas telepon itu karena itu tandanya bokap g sayang bgd sama g. Beda dengan bokap-bokap lain yang udh ga peduli atau ngga sebegitu peduli nya terhadap anaknya. Jangan dianggap sebagai gangguan tapi dianggap sebagai kebahagiaan. Waktu itu g cuma senyum aja dan ngga menanggapi serius, g pikir itu adalah nasihat sok bijak biasa.

Pertama kali kerja, g dapat pekerjaan dengan lokasi yang cukup jaih dari rumah dan saat itu transportasi umum belum luar biasa kya skrng. Busway belum ada. Padahal haltenya udh berdiri megah pas di depan gedung kantor g. Kakak g bilang wah bagus tuh haltenya ga jauh dari kantor lo, gampang klo mau pergi dan pulang. Sampai 2 tahun g kerja disana, itu koridor belun juga beroperasi. Ya sudahlah ya. Jadi paling cepat g sampai di rumah tuh sekitar jam 7.30 malam dengan pulang teng go (jam 5 udh keluar ruangan). Telepon dari bokap naik level jamnya. Dari pertama kali jam 5 pas g SMA, lalu jam 6 pas g kuliah dan beranjak ke 7.30 saat g kerja. Masih dengan pertanyaan yang sama dan durasi telepon yang sama.

Awal Semester 3 saat g sedang kuliah bahasa inggris, g mendapatkan telepon dari rumah sekitar pukul 10.00 pagi. Awalnya g males angkat telepon karena itu merupakan kondisi yang aneh, qo bisa jam segini bokap udh menelepon. Temen sebelah g bilang, angkat aja, keluar dulu sana, siapa tahu penting. Bener juga sih, ya udh g angkat dan dia benar. Yang menelpon bukan bokap tapi tante g. Dia bilang setelah selesai kelas kalau bisa langsung pulang, papa sakit. Cuma itu kalimat nya. G nanya sakit apa, masih dengan nada santai, dia bilang pulang aja dulu. Perasaan g langsung ga enak bgd. Selesai kelas itu, g langsung minta tolong ke siapapun yang bisa antar g pulang. Puji Tuhan ada yang mau dan bisa antar walaupun bukan dengan kendaraannya sendiri. Waktu sampai di depan rumah, perasaan makin ga enak karena di rumah banyak orang. Pemandangan makin ga enak saat g masuk ke ruang tengah. Disitu ada bokap yang sedang tiduran dikerumuni banyak orang dengan kondisi tidak sadar. Kaki g lemes dan langsung duduk di depan dia. Bokap positif kena stroke.

Hampir 1 tahun bokap berjuang untuk bisa bangun dari sakitnya. Dengan segala perjuangan yang dia dan kami lakukan. Akhirnya dia bisa bangun dan kembali berdiri dan berjalan walaupun tidak lagi sempurna. Tangan dan kaki kirinya tidak bisa digerakkan sempurna. Bahkan jari-jari di tangan kirinya sama sekali ga bisa digerakkan. Kondisi itu masih cukup kami syukuri karena dia masih bisa berkomunikasi dengan baik.

Sejak bokap bisa jalan dan bangun, kebiasaan dia buat nelepon g pun kembali berlanjut. Ga pernah lagi g bete dan kesel, g bahkan menunggu saat udh menjelang waktu dia harusnya menelepon. G akan menjawab dengan nada yang sangat baik. Hati g terasa senang dengan telepon itu sekarang.

9 April 2013 adalah hari yang sangat menyedihkan dalam hidup g. Saat itu g lagi Meeting di salah satu klien g saat g menerima telp dari sepupu g dan bilang untuk segera pulang karena bokap jatoh. Jantung g udh ga tahu deh kya apa degub nya. Langsung secepat kilat g izin ke temen-temen g trus ke klien nya trus g keluar ruangan. Di jalan g nelp kakal dan adik g. Adik g jawab kalau bokap udh di bawa ke RS. Jadi tujuan g langsung ke RS. Sampai di RS yang ada cuma penyesalan yang amat dalam dan g sedih karena g ga mampu berbuat apapun. Sirine ambulance berbunyi sejak dari parkiran RS sampai ke depan rumah, hati g menjerit lebih kencang dari bunyi sirine itu. Bokap udh pergi untuk selama-lamanya.

Sampai hari ini, saat jam tangan g menunjukkan pukul 7.30 malam, g akan melihat handphone g dan masih berharap dia berbunyi lalu ada suara di seberang sana yang berkata, udh sampai dimana? Suara berat khas bokap. Terima kasih Papa buat Semuanya, terima kasih untuk bunyi telepon yang tidak terlupakan. Selamat jalan Papa. Sampai bertemu di surga nanti. Amin.
Posted by Fronita Labels: ,
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger templates