Udah lama banged mengungkapkan dengan yang namanya mimpi. Dulu bangga banged pas nyebut diri sendiri adalah sang pemimpi yang dengan gigih berjuang untuk menggapai mimpinya tapi rasanya udah lama banged hal itu ngga ada. Banyak hari cuma dipenuhi dengan rasa bersalah, rasa sedih dan rasa tidak mampu berjuang dengan hidup sendiri. Berasa dikalahkan oleh yang namanya hidup.

Mungkin judul tulisan ini adalah kata yang sangat tepat untuk hari ini dan hari-hari ke depan. Bukan cuma dikatakan tapi juga untuk diperjuangkan. Semangat sang pemimpi harus dikobarkan kembali. Walau mimpi kali ini adalah sesuatu yang bukan kasat mata (haha), bukan sesuatu yang ada rumusnya dan bisa belajar sama orang lain atau uncle google. Ada yang bilang untuk satu ini dibutuhkan namanya ikhtiar (pinjem ya istilahnya, makasih).

Tapi bukan berarti ngga ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuannya. Emang sih sering banged denger jangan maksain, jangan nuntut kalau emang belum waktunya. Sabar aja nanti juga dikasih, nanti juga dateng sendiri, hmmm ya emang sih tapi waktu adalah sesuatu yang mungkin udah sangat tidak dimiliki saat ini. Bukan, bukan untuk sebuah kemeriahannya tapi untuk harapan dan mimpi yang lain, karena waktu mempengaruhi hal tersebut walau memaaaang tidak pernah ada yang mustahil bagi Sang Pemilik Hidup.

Jujur saja, ini bukan sesuatu yang mudah buat saya. Karena seumur hidup rasanya belum pernah melakukan ini. Dulu memang tidak pernah melakukannya karena ini bukan fokus dalam hidup dan merasa ah nanti juga ada waktunya dan nanti datang sendiri. Sampai di suatu waktu ada orang lain yang memulainya. dan begitu seterusnya dan sampai di suatu masa harus stuck dengan orang yang sama dan waktu yang cukup lama. Oke, kini kondisi berubah. Tidak ada siapapun. Tidak ada yang juga memulai, jadi akulah yang yang melakukannya. Start darimana, entah juga ini, ga tahu darimana (haha) tapi yang butuh dipikirkan dan dikerjakan. Pelan-pelan dan mulai fokus.

Tujuannya adalah untuk memenuhi bumi. Karena memang itulah yang paling diinginkan. Hai Sang Pemilik hidup, berikanlah jalan dan kemudahan bagiku untuk meraih hal ini. Berikanlah petunjuk untuk memulai kembali. Bukan dengan keluhan, bukan dengan kesedihan tapi dengan iman yang teguh bahwa masa depan itu sungguh nyata dan sudah disediakan. Buatlah aku kuat berjalan dan buatlah aku bisa menghadapi segala tantangan yang ada. Amin
Read More..
Posted by Fronita Labels: ,
Ternyata baru disadari bahwa orang-orang yang rasanya g berikan banyak hal dalam hidup bahkan hal-hal pertama dalam hidup Cuma menjadikan gue sebagai orang kedua dalam hati mereka, seriusan baru sadar saat ini haha. Lucu dan sedih sih, berasa mentertawakan diri sendiri. Justru orang yang menjadikan gue orang pertama dalam hidupnya malah ga dilihat sampai akhirnya mereka memilih untuk pergi dan mencari orang lain. Hiks.

Mungkin emang gue yang pengecut sejak dulu, pengecut untuk mengakui bahwa gue itu bisa jadi yang Utama. Kya udah berasa cukup aja gitu jadi yang kedua. Bayangin, dia pacar gue tapi dia cerita soal orang lain yang dia kagumi dan banggakan di depan gue dan gue dengan santainya menanggapi dengan senyuman dan berasa senang kalau dia berbinar-binar menceritakannya. Ini gue yang bego apa emang gimana dah haha. Asli ketawa2 sendiri kalau inget itu. Terus gue yang akan dengan setengah mati berusaha untuk mengingatkan dia akan hari-hari penting orang utamanya bahkan mencarikan hadiah dan berusaha membuat dia menjadi orang yang akan membahagiakan dirinya. Wow. Apa sih sebenernya gue ini? Apa sih perannnya? Apa pentingnya ya? Haha Yang paling keren adalah gue bertahan cukup lama untuk hal-hal seperti ini tanpa sadar akan apa yang gue lakukan. Astagaaa…

Sejak gue kecil, kyanya gue emang berjuang keras untuk bisa jadi yang diutamakan oleh orang lain. Baik dirumah maupun di sekolah, ataupun dimanapun. Ada begitu banyak orang yang menempatkan gue pada posisi tertentu dan memaksakan gue untuk merasa nyaman akan keputusannya walau sebenernya gue sanggup untuk bisa lebih dari itu. Bayangkan dalam 1 tahun gue dipaksa bertahan jadi urutan 2 Cuma karena pesaing gue akan stress kalau dia ga dapat rangking 1 (haha), dulu tuh 1 tahun ada 3x dapet raport loh. Jadi gue harus dengan pasrah menelan ludah bahwa gue akan selalu jadi nomor 2. Ngga nyangka siih kya bgini akan berlanjut dalam sisi kehidupan yang lain terutama percintaan.

Tapi ya hidup sudah berjalan, kan waktu emang ngga bisa balik lagi. Udah lewat ya lewat yang bisa dilakukan manusia adalah belajar dari apa yang udah lewat dan berusaha lebih baik dan ngga mengulang kesalahan yang sama. Yuk semangat, buka pikiran bahwa hidup ngga selamanya akan begitu, ada kalanya kita nengok arah yang salah sehingga ngga melihat Pelangi Indah di sisi lain yang justru udah lama nunggu buat dilihat.
Read More..
Posted by Fronita Labels: ,
Saturday, July 10, 2021 at 3:02 PM | 0 comments
10 Juli 2021, akhirnya gue divaksin. Vaksin dosis pertama dengan menggunakan Sinovac. Klo kata Deva Mahendra, percaya ga percaya, saat ini vaksin adalah salah satu ikhtiar menghadapi pandemi yang melanda. Kalau emang ngga ada kewajiban dari kantor, mungkin banyak orang yang akan berpikiran untuk menunda vaksin ini. Tapi sekarang udah wajib bahkan ada yang kejam dengan mau pecat karyawannya kalau ga vaksin. Ini kan udah jadi gimana yaa orientasinya. Ditambah sekarang kalau mau kemana-mana bahkan di masa PPKM darurat ini, kartu vaksin salah satu yang wajib, jadi kalau ngga ada maka ngga akan boleh, nah nambah lagi dah pengguguran alasan orang buat ngga mau divaksin.

Jujur yaa, sebenernya gue Pribadi juga ngga 100% setuju dengan vaksin jika melihat banyak berita dan juga hasilnya. Masih ada yang terpapar setelah vaksin bahkan ada yang terpapar di saat vaksin, belum lagi yang meninggal Cuma ya sudahlah kita berdoa saja ini merupakan salah satu jalan mencegahan walau emang ngga 100% ampuh ditambah dengan banyaknya merk vaksin dan keampuhannya, ini juga menjadi salah satu hal yang butuh dipikirkan. Kebanyakan mikir terus yaa jadinya haha. Ya tapi emang harusnya begitu kan supaya ngga salah jalan.

Yang menarik untuk mau gue share adalah soal proses yang gue jalani. Jadi awalnya waktu pengumuman pertama-tama soal vaksin dan belum ada kewajiban sana sini, tentu banyak orang yang cuek dan karena masih sedikit, prosesnya masih amat sangat bagus. Nyokap buktinya, datang, register vaksin, sertifikat langsung keluar. Ade-ade gue udah mulai melambat neh. Datang dengan undangan dan di waktu yang sesuai dengan undangan, nyatanya ngga dapat kuota. Jadi ternyata kalian mesti datang pagi banged buat ambil nomor registrasi lagi. Nomor itu yang menentukan jam berapa kalian dapat waktu vaksin. Ade-ade gue akhirnya balik lagi di hari pertama karena dapat nomor ratusan. Ambil nomor resgistrasi juga masih lebih mudah pas mereka, datang, dapet nomor, lihat jam, belum waktunya, balik pulang. Datang di pas waktunya, dipanggil nomornya, dicek, disuntik vaksin terus pulang, sertifikat cukup lama keluar, sms datang di sore hari padahal mereka suntik di pagi hari. Pas udah ke gue, jauh lebih luar biasa donk kk2 prosesnya.

Jadi udah ngga ada undangan lagi. Katanya langsung datang aja, bawa Fotokopi KTP. Tanggal awal 29 Juni, berubah ke 10 Juli. Pas datang ke lokasi, daftar lagi, ambil nomor dulu (untung udah belajar dari pas ade gue), lihat nomor, deket sih 023, mulainya jam 08.00-09.30, pas gue dtg pas jam 07.00. jadi ade gue bilang balik dlu, tar jam 08.00 kita kesini lagi. Jam 08.00 gue dtg, astagaaa, antrian udah mengular. Untung lokasinya di lapangan bola, jadi bisa jauh-jauh dah walau yang antri sih deket-deket jadinya, nah ini yang harus dimaklumi dan disadari bahwa inilah negara kita tercinta Indonesia. Udah ngga tahu proses, yang ada Cuma marah-marah, kenapa antri kenapa begini kenapa bgitu. Pas lagi kisruh sodara-sodara, datanglah 1 orang ibu, belum terlalu tua, atau jangan-jangan umurnya sama kali sama gue haha (hiks), dia mengambil alih lalu bicara dengan sangat tegas. Dia bilang bahwa kuota vaksin hanya 300, datang sesuai dengan nomor antrian, kalau yang bukan no 1-50, segera pulang. Vaksin hanya salah satu jalan pencegahan, bukan berarti ngga akan terpapar, nakes dan petugas puskesmas pun masih banyak yang kena apalagi bapak ibu yang kondisinya begini. Abis dia bilang begitu, bubar cuy. Walau masih ada yang ndablek dan dtg2 ke meja buat nanya-nanya lagi. Sebenernya petugas kelurahan ngga boleh disalahin siih, mereka aparat desa yang pada kenyataannya masih sodara dengan warga atau tetangga atau deketlah, yang susah buat melakukan penolakan dengan tegas. Kalau menurt gue sih emang warganya aja dah yang bandel. Bahkan ada yang comel dengan bilang, dibyaar juga petugas, masa bgtu pelayanannya, terus dibilang milih-milih saat dia ngga kebagian nomor antrian. Asli pengen melakukan sesuatu siih tapi ya gimana donk. Pak RT nya untung nya sangat bijak menanggapi. Ngga lama pasca bubar, mulai lagi cuy kerumunan karena datanglah orang-orang yang ga denger pengumuman tadi dan mulai nanya-nanya lagi ke meja registrasi dan pastinya ngumpul. Susah bener suruh jaga jarak padahal Pak RT udah teriak-teriak. Oh negaraku Indonesia, bagaimana kita mau udahan ini pandemi, hiks.

Gue ga tau mana yang harus diperbaiki dluan. Dlu pas awal dan ngga banyak yang mau, sama sekali ga antri dan cepat prosesnya. Nyokap bahkan bilang, Cuma ada 8 orang di 1 kelurahan kami loh. Waktu itu nyokap vaksin di kecamatan. Sekarang membludak dimana-mana. Tua muda semuanya datang. Dan yakin bgd tujuan mereka Cuma dapat sertifikat. Ga peduli vaksin apa. Ga peduli gimana caranya. Pokoknya dapet tuh sertifikat. Jadi bginilah prosesnya, sedih siih jadinya.

Sampe satu hari setelahnya, gue masih belum dapet sertifikat. Mau cek di website pedulillindungi, mau di apps nya, tak ada pun tuh sertifikat. SMS pun tidak ada. Lelah akika. Cek-cek berita, sekarang bisa 1-2 minggu keluarnya, wow, padahal nyokap tuh ga nyampe 1 jam tuh sms dan sertifikat udah ada. Ini mungkin bisa dimaklumi karena banyak skrng tap ikan proses data pasca di upload harusnya sama, entahlah apa emang servernya yang overload ataaau jangan-jangan ini ada hubungannya sama project gue yang katanya isinya data kominfo yang udah teriak-teriak minta kapasitas sejak tengah Juni lalu (nebak aja siih hehe).

Jadi Vaksin itu gimana, ya begitulah prosesnya. Kalau efeknya, sementara gue Cuma terus menerus merasa dingin dan lemes, tapi suhu masih aman, terus diantara 36,0-36,5 aja Cuma lengan kiri yang bekas vaksin amat sangat terasa pegel. Pake ngetik aja pegel bener ditambah yang bagian bekas suntik sakit beud kalau kesentuh. Sisanya siih aman kalau gue. Padahal temen-temen gue horror bener efeknya. Semoga aman-aman deh sampe 3 hari ke depan, amiin.

All, boleh banged maksa vaksin dan menjadi dipaksa vaksin sekarang tapi please prokes tetep dijalanin yaa. Jangan marah-marah sama petugasnya. Mereka udah amat sangat Lelah terhadap semuanya. Harus urus yang sakit, harus urus vaksin juga. Jadi toleransinya ditinggiin walau emang susah banged yaaak. Semoga yang berkuasa bisa melihat jauh lebih dekat lagi derita kita yaa sebagai rakyat dan bisa bertindak lebih baik lagi wahai para penguasa.
Read More..
Posted by Fronita Labels: ,
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger templates